Pengrajin Bambu Desa Belega dalam Dinamika Sosial Masyarakat
Oleh: Ni Putu Ana Mira Devi, NIM. 2312011052, Jurusan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah, UNDIKSHA
Desa Belega, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat kerajinan tradisional di Bali, khususnya kerajinan berbahan bambu. Aktivitas mengolah bambu menjadi berbagai produk fungsional bukan sekadar kegiatan ekonomi, tetapi juga telah menjadi bagian dari identitas masyarakat desa. Di tengah perubahan zaman dan semakin berkurangnya minat generasi muda terhadap pekerjaan tradisional, masih ada pengrajin yang setia bertahan. Salah satunya adalah I Wayan Arsana (44 Tahun), pengrajin bambu yang telah menekuni bidang ini di Desa Belega.
Wayan Arsana mengawali perjalanan sebagai pengrajin bambu sejak duduk di bangku sekolah dasar. Ia mengenang bahwa keterampilan tersebut mulai ia tekuni sejak kelas enam SD. “Sejak SD kelas enam sudah mulai bikin kerajinan bambu,” tuturnya. Ketertarikan itu tumbuh bukan hanya tuntutan keluarga, tetapi karena lingkungan sekitar yang akrab dengan aktivitas kerajinan.
Pemilihan bambu sebagai bahan utama kerajinan tidak terlepas dari pertimbangan praktis. Pada masa awal menekuni kerajinan, bambu dinilai lebih mudah diperoleh dibandingkan bahan lain. “Dulu bambu itu cepat dapat. Kadang-kadang bisa nyari sendiri,” ujarnya. Selain mudah didapat, bambu juga relatif ringan, fleksibel, dan memiliki banyak kegunaan. Hal inilah yang mendorongnya untuk menjadikan bambu sebagai bahan utama dalam setiap karya yang dihasilkan. “Makanya dipakai bambu jadi kerajinan,” tambahnya.
Meskipun Desa Belega dikenal sebagai sentra kerajinan bambu, bahan baku bambu yang digunakan oleh para pengrajin, termasuk Wayan Arsana, tidak berasal dari desa tersebut. Ia menjelaskan bahwa bambu yang digunakan didatangkan dari wilayah lain, khususnya Kabupaten Bangli. “Kalau tanam bambu di sini nggak punya. Datangnya dari Bangli,” jelasnya. Bambu tersebut dikirim langsung ke Belega atau dibeli melalui pengepul bambu yang ada di sekitar desa.
Dalam memilih bahan baku, Wayan Arsana sangat memperhatikan kualitas bambu. Ia menekankan bahwa bambu yang digunakan harus sudah cukup tua agar kuat dan tahan lama. “Yang dipilih itu bambu yang agak tua, tapi jangan yang pecah,” ujarnya. Menurutnya, bambu yang pecah akan menyulitkan proses pengerjaan dan memengaruhi kualitas produk. Meski terdapat berbagai jenis bambu, tidak semuanya cocok untuk kerajinan tertentu. “Tergantung juga pekerjaannya untuk apa,” katanya, menjelaskan bahwa setiap produk membutuhkan karakter bambu yang berbeda.
Proses pembuatan kerajinan bambu dilakukan melalui tahapan yang cukup panjang dan sebagian besar masih mengandalkan teknik manual. Tahap awal dimulai dengan membersihkan bambu menggunakan pasir agar kotoran dan lapisan luar yang kasar dapat hilang. “Bambunya dicuci dulu pakai pasir, terus dikeringkan,” jelas Wayan Arsana. Setelah itu, bambu dipotong sesuai ukuran dan dibentuk berdasarkan pola atau desain yang telah ditentukan. Tahap pembentukan ini membutuhkan ketelitian tinggi agar hasil akhir sesuai dengan permintaan konsumen.
Setelah dibentuk, bambu kembali dibersihkan untuk memastikan permukaannya halus dan rapi. Proses selanjutnya adalah pemolesan agar bambu tampak lebih cerah. “Yang penting kelihatan putih, habis itu baru dipelitur,” ujarnya. Tahap finishing ini menjadi penentu tampilan akhir produk, sekaligus memberikan perlindungan agar bambu lebih awet digunakan. Seluruh proses tersebut dikerjakan dengan penuh kehati-hatian karena kesalahan kecil dapat memengaruhi hasil keseluruhan.
Dalam pengerjaan kerajinan, alat-alat yang digunakan masih tergolong sederhana. Wayan Arsana menggunakan pisau, pahat, dan beberapa alat manual lainnya. Penggunaan mesin hanya terbatas pada proses tertentu, seperti pengeboran. “Melubanginya itu manual, pakai pahat sama pisau. Kalau ngebor baru pakai mesin,” jelasnya.
Produk kerajinan bambu yang dihasilkan Wayan Arsana cukup beragam dan bersifat fungsional. Ia kerap membuat atap angkul-angkul, lemari, tempat tidur, kursi, meja serta ayunan bayi. Salah satu produk yang paling sering dipesan adalah atap angkul-angkul berbahan bambu, yang digunakan sebagai bagian dari arsitektur tradisional Bali. Seluruh produk dibuat berdasarkan pesanan konsumen. “Kita dikasih gambar sama ukurannya, kita tinggal ngerjakan saja,” ujarnya.
Waktu pengerjaan setiap produk berbeda-beda, tergantung pada ukuran dan tingkat kesulitan motif. Untuk satu unit atap angkul-angkul, Wayan Arsana membutuhkan waktu sekitar sepuluh hari. “Kalau angkul-angkul sekitar sepuluh hari, tapi tergantung motifnya,” katanya. Jika desain yang diminta lebih rumit, proses pengerjaan bisa berlangsung lebih lama. “Kalau motifnya sulit, bisa sampai satu bulan,” tambahnya.
Dalam menjalankan usaha kerajinan bambu ini, Wayan Arsana menghadapi berbagai tantangan. Tantangan terbesar muncul ketika menerima pesanan dengan desain yang benar-benar baru dan belum pernah ia kerjakan sebelumnya. “Kalau dikasih gambar baru, belum pernah kita bikin, itu yang paling sulit,” ungkapnya. Selain itu, keterbatasan tenaga kerja juga menjadi kendala utama. Hampir seluruh proses produksi ia lakukan sendiri. “Kalau barangnya besar, kerja sendiri itu paling susah,” ujarnya.
Meski demikian, ketersediaan bahan baku bambu relatif tidak menjadi masalah besar. Pengiriman bambu ke Desa Belega berlangsung cukup rutin. “Dalam satu minggu bisa empat kali pengiriman, kadang satu hari bisa sampai lima truk,” jelasnya. Hal ini membuat proses produksi tetap berjalan selama ada pesanan yang masuk.
Dalam hal pemasaran, Wayan Arsana mengaku tidak aktif menggunakan media sosial. Promosi produk lebih banyak dilakukan melalui jaringan pertemanan dan konsumen. “Kadang ada teman yang foto, dia yang pasarkan. Order masuk lewat dia, terus ke saya,” katanya. Meski tidak memasarkan secara langsung melalui platform digital, pesanan tetap datang secara berkala. Dalam satu bulan, ia bisa menerima pesanan dari beberapa konsumen dengan jumlah produk yang bervariasi.
Ia berharap kerajinan bambu tetap dapat bertahan di masa depan, meskipun menyadari bahwa regenerasi pengrajin menjadi tantangan besar. “Berharap sih bisa diturunin, tapi anak-anak sekarang kebanyakan kerja keluar,” ujarnya. Kondisi tersebut membuat keberlanjutan kerajinan bambu sangat bergantung pada pengrajin yang masih bertahan.
Kisah Wayan Arsana mencerminkan realitas pengrajin tradisional di tengah perubahan zaman. Dengan keterampilan manual, ketekunan, dan pengalaman panjang, ia terus menjaga eksistensi kerajinan bambu di Desa Belega. Kerajinan yang dihasilkannya bukan hanya memiliki nilai fungsi, tetapi juga menyimpan nilai budaya dan kearifan lokal yang patut dilestarikan. Di tengah arus modernisasi, keteguhan pengrajin seperti Wayan Arsana menjadi bukti bahwa tradisi masih dapat hidup, selama ada kesungguhan untuk menjaganya.